Opini  

Merindukan Guru Panutan

Merindukan Guru Panutan

Opinijogja.com — Guru adalah panutan bagi siswa siswa-siswi, baik di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah. Akhir-akhir ini tarbiah Tanah Air kembali digaduhkan dengan munculnya berbagai kasus demi kasus yang terjadi di ranah pendidikan kita.

Kasus demi kasus yang tak lain adalah kekerasan seksual dan perundungan terjadi di ranah pendidikan, baik dilakukan guru ataupun peserta didik.

Terang saja ini sebuah keironian mengingat sekolah merupakan tempat bagi tumbuh kembang anak di masa mendatang. Lingkup akademis kembali tercoreng dan tercoreng oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan kasus yang tak pernah dianggap serius di lingkup sekolah.

Mengutip pada laman Republika (7/3/2023) yang ditulis oleh Asep Sapa’at dengan judul Pesan Sang Guru yang di mana disebutkan bahwa “guru adalah pejuang rakyat yang bekerja tanpa pamrih walaupun ketika di rumah harus bergelut dengan segala kebutuhan dan kondisi hidup yang serba sulit. Menjadi guru tak boleh didasari oleh niat untuk sekadar mengisi lowongan pekerjaan. Guru bukan pekerjaan main-main karena yang dihadapinya adalah anak-anak yang kelak akan menentukan arah perubahan masa depan bangsa. Anak-anak adalah rumah masa depan kita”.

Sejenak kita berpikir arti seorang guru, guru adalah sumber ilmu yang seharusnya mentransfer hal yang bermanfaat bagi generus dan sebagai tonggak utama dalam kemajuan sebuah bangsa. Bukan sebaliknya, guru bukan meruntuhkan citra pendidik yang diamanahkan oleh orang tua siswa terhadapnya. Sesungguhnya, guru adalah orang-orang pilihan yang dapat menjaga muruah.

Guru bukan hanya sekadar mengajarkan materi di dalam kelas, tetapi guru harus memberi contoh yang baik tanpa mengesampingkan nilai-nilai agama sebagai pondasinya. Guru yang baik adalah guru yang dapat mencontohkan, mencerminkan sifat dan perilaku, serta dapat memberi budi pekerti luhur terhadap siswa.

Tri Sentra Pendidikan yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara memaparkan bahwa guru adalah pendidik yang berpusat di sekolah yang merupakan tempat diamanahkannya oleh orang tua agar siswa agar mampu mencontoh perilaku dari seorang guru. Seorang pendidik harus mampu bersikap yang baik, perkataan dan perbuatan harus berjalan beriringan, dan yang terpenting guru harus mampu menjadi sosok panutan bagi peserta didik.

Merindukan Sosok Panutan

Sejenak mengingat kembali beberapa tokoh sekaligus panutan bagi dunia akademis yang sudah kembali kepada Sang Khalik. Pertama, Buya Syafii Maarif, sosok kesederhaan dan kesahajaan Buya Syafii untuk tidak mau bergantung dengan orang lain serta kemerdekaan jiwa manusia menjadi satu bentuk keteladanan yang harus ditiru, setidaknya bagi kami anak-anak ideologisnya terlebih bagi dunia pendidikan.

Kedua, Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen adalah sosok guru dan penuntun. Mbah Moen merupakan sosok orang tua, guru, penuntun, dan pembimbing sehingga kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam khususnya dalam pendidikan di Indonesia saat ini.

Dunia pendidikan Indonesia yang semakin hari dahaga keteladanan tentu menjadi PR bersama bagi instansi terkait, terkhusus bagi seorang pendidik sebagai poros utama suksesnya pendidikan di Indonesia. Kasus demi kasus yang terjadi di ranah sekolah yang dilakukan oleh oknum guru, seolah pendidik gagal dalam mendidik siswanya dalam meraih cita-cita suatu bangsa.

Semboyan

Sebagai pendidik, mari sejenak mengingat semboyan yang digaungkan Ki Hajar Dewantara yang berbunyi “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Semboyan tersebut bukan hanya sekadar diingat ketika Hari Pendidikan Nasional semata, tetapi harus selalu tertanam dalam dari seorang pendidik.

Seorang pendidik harus benar-benar mampu memberi teladan yang baik bagi siswa, pendidik harus mampu memberikan ide serta gagasan yang membangun tanpa menyimpang, dan pendidik harus mampu mendorong siswa untuk melakukan hal yang baik tanpa memaksakan kehendak terhadap siswanya.

Melalui semboyan yang sudah digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara tersebut, guru seharusnya mengedepankan sebuah karisma sebagai seorang pendidik yang berwibawa dan berdedikasi tinggi terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia.

Seorang guru yang mendedikasikan sepenuh hatinya untuk pendidikan di Indonesia tentu mengerti kode etik di dalam memberikan pengarahan dan mendidik bagi siswanya untuk meraih cita-cita. Cita-cita yang mulia bagi pendidik yang dapat diartikan sebagai guru yang digugu lan ditiru.

Dalam filosofi bahasa Jawa guru mempunyai peranan bahwa perkataannya harus dapat dijadikan pedoman bagi siswa dan dapat dipertanggungjawabkan tanpa mengesampingkan kode etik yang berlaku. Guru harus dapat memberi contoh, panutan, dan pedoman bagi peserta didik dalam menggapai cita-cita mereka kelak.

Ridwan Mahendra. Penulis adalah seorang guru bahasa Indonesia di Surakarta dan penulis buku Tinta yang Terbuang (2023) diterbitkan oleh CV Nimetler Mediatama dengan nomor ISBN Perpusnas RI 978-623-8288-01-4.